Selasa, 25 Juni 2013

Makalah-Studi Al-Qur'an-"AYAT-AYAT YANG TURUN PADA MUSIM PANAS DAN MUSIM DINGIN"



­ Tugas Mandiri                                                                        Dosen Pembimbing
Studi Al-Qur’an                                                                    Khairul Amri, M.Ag



AYAT-AYAT YANG TURUN PADA
MUSIM PANAS DAN MUSIM DINGIN




Oleh :
CAHYUNI ROKHA
NIM. 11121200304



JURUSAN AHWAL AL-SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN ILMU HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2012


BAB I
PENDAHULUAN


Semboyan "kembali kepada AI-Quran" sudah banyak didengungkan orang. Semua sepakat, itulah formula yang akan dapat mengangkat umat Islam dari ketertinggalannya, dan mengantarkan mereka kepada suatu ke­bangkitan kembali yang didambakan. Tapi, sudahkah umat Islam mengenal Kitab Suci ini? Atau, sudah benarkah pengenalannya selama ini? Tanpa pengenalan yang benar, semboyan itu tak akan panya arti apa-apa dan tidak akan membawa kita ke mana-mana.
Ayat al-quran yang turun kepada Nabi Muhammad, ada yang pada musim panas, dan ada pada musim dingin.
Maka, dalam makalah ini kami akan menerangkan lebih lanjut mengenai ayat-ayat yang turun pada musim panas dan musim dingin.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Ayat Musim Panas
Al-Wahidi berkata: Ada dua ayat dalam AI-Qur'an yang membahas tentang masalah al-kalalah (Yaitu seseorang yang meninggal tapi tak mempunyai seorang ahli waris pun). Salah satunya syita'i, yang turun di saat musim dingin. Ayat ini terdapat di awal surat an-Nisa'. Sedangkan yang lainnya turun di saat musim panas, yang terdapat di akhir surat an-Nisa'.
Disebutkan dalam sahih Muslim sebuah hadits dari Umar bin Khattab ra, ia berkata : Saya tak pernah banyak menanyakan suatu hal kepada Rasulullah saw selain masalah Al-Kalalah, dan beliau tidak pernah membentakku kecuali dalam masalah ini, sampai beliau menekan dadaku dengan telunjuknya dan berkata: "Wahai Umar! Masih kurangkah bagimu penjelasan tentang al-kalalahyang terdapat dalam ayat shaif (yang turun di musim panas) yang terdapat di akhir surat an-Nisa' ?"[1]
Dan disebutkan dalam Al-Mustadrak sebuah hadits dari Abu Hurairah ra bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi saw : “Wahai Rasulullah! Apa yang dimaksud dengan al-kalalah?Kemudian beliau menjawab: "Apakah engkau belum mendengar yang diturunkan di saat musim panas?! Yaitu firman Allah swt yang berbunyi :

Artinya : “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)[387]. Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (an-Nisa : 176).

Dan telah disebutkan bahwa ayat ini turun di tengah perjalanan Rasul SAW dalam haji wada’. Karena turun pada saat haji wada’ itulah, maka ayat di atas termasuk ayat yang turun di musim panas (shaifiy), seperti yang terdapat pada awal surat al-Maidah ayat 6 :

Artinya : :”...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu...” (al-Maidah : 3).

Juga yang tergolong kedalam ayat-ayat shaify adalah ayat-ayat yang diturunkan saat terjadi perang Tabuk, ayat-ayat itu turun saat suhu panas begitu menyengat. AI-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits dalam Ad-Dalai/dari jalur Ibnu Ishaq, dari Ashim bin Umar bin Qatadah dan Abdullah bin Abu Bakar bin Ham bahwa Rasulullah saw, setiap hendak melaksanakan suatu peperangan, beliau pasti mengumumkan hal lain selain perang, agar tidak diketahui musuh kalau beliau hendak berperang. Tapi saat hendak berperang di Tabuk beliau terang-terangan mengumumkan hal ini, beliau berkata: "Wahai para manusia! Sesungguhnya saya hendak memerangi orang-orang Romawi". Beliau mengumumkan hal ini karena saat itu keadaan kaum muslimin sangat kesusahan, musim panas berlangsung sangat panjang, dan mereka tidak mempunyai bekal yang cukup buat berperang.
Maka ketika Rasulullah saw di suatu hari sedang mempersiapkan alat perangnya, beliau bertanya kepada Jadd bin Qais ra: "Apakah kamu tertarik dengan gadis-gadis Bani al-Ashfar (gadis-gadis Romawi)?” Jadd bin Qais ra. Menjawab : benar wahai Rasul!. Dan kaumku telah mengatahui bahwa tak ada seorang pun dari mereka yang menyukai wanita selain diriku. Maka berilah saya izin untuk tidak ikut berperang karena saya takut bakal terfitnah oleh gadis-gadis Romawi itu. Maka turunlah ayat :

Artinya : “Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah." ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah[645]. dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (at-Taubah : 49).[2]


B.     Ayat Musim Dingin
Maksudnya, adalah ayat-ayat yang turun bertepatan dengan musim dingin. Diantaranya adalah :
Surat an-Nuur ayat 11-26.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Hadist Aisyah ra bahwa ayat-ayat ini diturunkan di hari-hari yang sangat dingin.
Juga yang termasuk ayat-ayat syita’i adalah  ayat-ayat dalam surat al-Ahzab tentang perang Khandaq.  Karena waktu terjadinya perang Khandaq ini, udara dingin sangatlah menusuk tulang. Disebutkan dalam Hadist Hudzaifah ra, ia berkata : “Orang-orang pada malam perang ahzab telah pada bubar dan tidak lagi berada di samping Rasulullah SAW., selain dua belas orang. Kemudian Rasulullah SAW. Mendatangiku dan berkata : “wahai Huzaifah! Berdirilah dan pergilah ke markaz musuh. Saya berkata : wahai Rasulullah! Demi Allah, zat yang telah mengutus Anda dengan Haq, saya tidak bisa pergi sekarang, karena hawa dingin ini telah membekukan tulag-tulangku.. (al-Hadist). Dan dalam perag ini juga turun Firman ALLAH SWT. yang  berbunyi :

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#rãä.øŒ$# spyJ÷èÏR «!$# ö/ä3øn=tæ øŒÎ) öNä3ø?uä!%y` ׊qãZã_ $uZù=yör'sù öNÍköŽn=tã $\tÍ #YŠqãZã_ur öN©9 $yd÷rts? 4 tb%Ÿ2ur ª!$# $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #·ŽÅÁt/ ÇÒÈ  
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (al-Ahzab : 9).

Ayat ini menerangkan kisah Ahzab Yaitu golongan-golongan yang dihancurkan pada peperangan Khandaq karena menentang Allah dan Rasul-Nya. yang dimaksud dengan tentara yang tidak dapat kamu lihat adalah Para Malaikat yang sengaja didatangkan Tuhan untuk menghancurkan musuh-musuh Allah itu.[3]

BAB III
KESIMPULAN


Al-Wahidi berkata: Ada dua ayat dalam AI-Qur'an yang membahas tentang masalah al-kalalah (Yaitu seseorang yang meninggal tapi tak mempunyai seorang ahli waris pun). Salah satunya syita'i, yang turun di saat musim dingin. Ayat ini terdapat di awal surat an-Nisa'. Sedangkan yang lainnya turun di saat musim panas, yang terdapat di akhir surat an-Nisa'.



DAFTAR PUSTAKA


Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Samudera Ulumul Qur’an (al-Itqan fi Ulumil Qur’an), Surabaya : PT. Bina Ilmu Surabaya, 2008.







[1] Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Samudera Ulumul Qur’an (al-Itqan fi Ulumil Qur’an), Surabaya : PT. Bina Ilmu Surabaya, 2008, hal : 112.
[2] Ibid. hal : 115
[3] Ibid. hal : 117

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar